Rusia Bantah Rencana Serang Nato, Kremlin Kritik Peringatan Jerman

RUSIA BANTAH RENCANA SERANG NATO, KREMLIN KRITIK PERINGATAN JERMAN

Foto: Prajurit memegang bendera Nato

Jakarta, VOID.CO.ID — Kremlin menepis anggapan bahwa Rusia tengah menyiapkan konfrontasi dengan NATO. Penegasan ini disampaikan juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, merespons pernyataan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius yang menyebut Rusia berpotensi menyerang negara anggota aliansi itu pada 2028 hingga 2029.

Peskov mengatakan Moskow tidak memiliki kepentingan untuk memicu konflik baru. Namun, ia menilai retorika dari sejumlah negara anggota NATO semakin “bernuansa militer” dan mendorong situasi ke arah yang lebih tegang.

“Ucapan-ucapan bernada agresif kini semakin sering datang dari ibu kota Eropa,” ujar Peskov, dikutip media Rusia, RT, Sabtu (22/11/2025).

Ia menegaskan pernyataan semacam itu justru memperburuk keadaan. “Rusia tidak mencari pertikaian dengan NATO. Tetapi kami akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional bila itu dibutuhkan,” lanjutnya.

Sikap serupa disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, yang menuding Jerman bertindak seperti pihak agresor. Pernyataan tersebut mengikuti komentar Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang sebelumnya menyebut Jerman memperlihatkan tanda-tanda “re-Nazifikasi”.

Ketegangan antara Rusia dan NATO meningkat sejak Moskow melancarkan operasi militer ke Ukraina pada 2022. Kremlin sejak lama keberatan atas keinginan Ukraina bergabung dengan NATO dan menyebutnya sebagai ancaman langsung bagi keamanan Rusia. Moskow juga berulang kali menyuarakan kekhawatiran terkait aktivitas militer NATO di perbatasan barat Rusia serta ekspansi aliansi ke Eropa Timur.

Sementara itu, Pistorius mendesak negara-negara Eropa mempercepat modernisasi pertahanan. Dalam wawancaranya dengan Frankfurter Allgemeine Zeitung, ia mengatakan Presiden Vladimir Putin tidak menyembunyikan ambisi imperialnya dan menilai keamanan Eropa “tidak berarti” bagi Moskow.

Menurut Pistorius, berbagai lembaga intelijen dan analis militer memperkirakan bahwa Rusia dapat memulihkan kekuatan militernya hingga cukup kuat untuk mengancam wilayah timur NATO pada 2029, bahkan ada yang memprediksi lebih cepat, yaitu 2028.“Sebagian ahli bahkan menyebut musim panas tahun lalu bisa jadi musim panas terakhir kita tanpa konflik,” ujarnya.

Meski begitu, Pistorius menegaskan NATO masih memiliki kemampuan pertahanan yang solid, baik secara konvensional maupun melalui kemampuan nuklirnya. Ia menekankan bahwa negara-negara Eropa harus bergerak cepat memperkuat militernya setelah puluhan tahun dinilai kurang berinvestasi.

“Kita wajib meningkatkan kesiapan dan perlengkapan pasukan sesegera mungkin,” tegasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Leave a Reply