Secangkir Kopi, Daun Kelor, Kemarau, dan Pelajaran untuk Tidak Merasa Paling Benar
Oleh: Syarif Larampang Parawali
Cerita Inspiratif, Void.co.id – Sore itu, setelah Asar dan sebelum Magrib, kami kembali duduk di tempat yang hampir-hampir sudah seperti ruang kelas kedua.
Bukan ruang kelas dengan papan tulis, spidol, dan daftar hadir.
Tidak ada juga dosen yang akan memberi nilai.
Hanya ada meja, kursi, kopi, beberapa makanan ringan, dan dua orang yang kalau sudah berbicara bisa membuat waktu lupa pulang.
Tempatnya sebuah kafe yang bagi kami cukup nyaman. Entah karena kopinya, entah karena kursinya, atau jangan-jangan karena obrolannya.
Saya sendiri curiga yang terakhir.
Sebab kalau hanya mencari kopi, banyak tempat yang menjual kopi.
Tetapi kalau mencari percakapan yang membuat kepala sedikit lebih penuh dan hati sedikit lebih lapang, tempat seperti ini tidak selalu mudah ditemukan.
Kami sudah melakukan pertemuan semacam ini kurang lebih beberapa tahun terakhir.
Banyak hal kami ceritakan.
Banyak hal kami diskusikan.
Kadang serius sampai dahi berkerut.
Kadang tertawa sampai lupa bahwa usia sudah tidak cocok lagi untuk tertawa terlalu keras di tempat umum.
Pembicaraan kami bisa melompat dari kebangsaan ke keummatan, dari politik ke pendidikan, dari masyarakat ke budaya, bahkan kadang-kadang berhenti pada pertanyaan sederhana.
“Sudah makan?”
Begitulah diskusi kami.
Kadang membahas bangsa.
Kadang membahas umat.
Kadang membahas budaya.
Dan kadang membahas perut.
Sebab bagaimanapun juga, manusia adalah makhluk yang bisa berbicara tentang masa depan bangsa sambil tetap bertanya apakah pisang gorengnya masih ada.
Di antara mereka ada seseorang yang saya panggil Anre Gurutta.
Sapaan itu tidak muncul karena formalitas.
Bukan pula karena saya sedang mencari panggilan yang terdengar hebat.
Ada alasan yang lebih dalam, ilmu, pengalaman dan keteladanan.
Bagi saya, ia kadang seperti orang tua.
Kadang seperti kakak.
Kadang seperti guru.
Dan pada waktu tertentu, ia justru menjadi teman yang membuat percakapan terasa begitu ringan.
Sebagian pengetahuan dan pengalaman hidup yang saya miliki hari ini tumbuh dari percakapan-percakapan semacam itu.
Ada pula seorang abang yang saya panggil Guru Besar.
Dua sapaan itu bukan saya berikan karena gelar akademik yang terpampang di dinding.
Saya memberikannya karena kedalaman ilmu dan pengalaman yang membuat saya menaruh hormat.
Saya belajar bahwa seseorang tidak harus selalu memperkenalkan dirinya sebagai orang berilmu.
Kadang justru orang yang paling berilmu adalah orang yang tidak sibuk memberi tahu bahwa dirinya berilmu.
Sore itu, pembicaraan kami sampai pada satu tema yang sederhana, tetapi ternyata menyimpan pelajaran besar.
Kemarau.
Anre Gurutta berkata kurang lebih begini:
“Jangan selalu menganggap sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita sebagai sesuatu yang buruk”.
Saya diam.
Ia kemudian memberi perumpamaan tentang makanan.
Saat musim hujan, sayuran mungkin tumbuh subur. Daun-daunnya segar. Kebun terlihat hijau.
Tetapi ketika kemarau datang, manusia dipaksa sedikit lebih kreatif.
Ada tanaman yang mungkin tidak terlalu diperhatikan ketika air berlimpah, tetapi justru menjadi penting ketika keadaan berubah.
Salah satunya kelor.
Daunnya mungkin tidak sesegar ketika musim hujan.
Tetapi bukankah Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa semua kebutuhan manusia harus tersedia dalam bentuk yang sama pada setiap musim?
Saya tersenyum.
Dalam hati saya berkata:
“Kalau begini caranya, jangan-jangan nanti kemarau malah membuat kita semakin pandai memasak”.
Ia kemudian melanjutkan pembicaraan dengan kalimat yang bagi saya sederhana tetapi dalam:
“Tuhan punya cara lain“.
Kalimat itu terus tinggal di kepala saya.
Sebab sering kali manusia terlalu sibuk meminta sesuatu hadir sesuai keinginannya, sampai lupa bahwa Tuhan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Al-Qur’an mengingatkan:
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.
(QS. Al-Baqarah: 216) (Quran.com)
Ayat itu sebenarnya mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana:
pengetahuan manusia terbatas.
Kita melihat hari ini.
Allah mengetahui hari esok.
Kita melihat daun yang mengering.
Allah mengetahui apa yang sedang dibentuk oleh kehidupan di balik musim itu.
Kita melihat kesulitan.
Allah mengetahui kemungkinan kebaikan yang dapat lahir darinya.
Dan mungkin karena itu, manusia tidak seharusnya terlalu cepat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya pasti merupakan keburukan.
Tetapi di sinilah persoalan manusia modern.
Kadang kita tidak sabar menunggu penjelasan.
Baru melihat langit mendung sedikit, sudah membuat teori.
Melihat kemarau panjang, teori lagi.
Harga naik, teori.
Harga turun, teori.
Jalan rusak, teori.
Lampu mati, teori.
Bahkan kalau kopi di meja terasa kurang manis, jangan-jangan nanti ada yang membuat teori bahwa itu bagian dari konspirasi global.
Kami tertawa.
Tetapi di balik candaan itu ada persoalan serius.
Manusia memang mudah membuat kesimpulan.
Apalagi ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita memeriksa kebenarannya.
Kemarau, misalnya.
Ada orang yang dengan mudah mengatakan:
“Ini karena pemimpin”.
Kalimat seperti itu terdengar sederhana.
Tetapi ilmu tidak bekerja sesederhana itu.
Musim memiliki pola klimatologis, dinamika atmosfer, monsun, variabilitas iklim, dan faktor-faktor lain yang harus dipelajari sebelum kita menunjuk satu penyebab.
Untuk Indonesia pada 2026, BMKG memprediksi puncak musim kemarau secara luas terjadi pada Juli–September, dengan puncak terbesar pada Agustus. BMKG juga mencatat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dari biasanya. (BMKG)
Bahkan pada awal Agustus 2026, BMKG mencatat 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim sedang mengalami musim kemarau. Sebagian besar Sulawesi juga termasuk wilayah yang mengalami musim kemarau pada periode tersebut. (BMKG)
Artinya, kemarau tidak boleh serta-merta dibaca sebagai kesalahan seorang pemimpin.
Namun bukan berarti manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab.
Itu juga keliru.
Ilmu iklim menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia dapat memengaruhi berbagai ekstrem cuaca dan iklim. IPCC menjelaskan bahwa pemanasan meningkatkan kebutuhan evaporatif atmosfer dan dapat memperparah kekeringan di banyak wilayah, sementara aktivitas manusia dan pengambilan keputusan juga dapat memengaruhi tingkat keparahan kekeringan. (IPCC)
Jadi persoalannya bukan memilih antara:
“Ini semua karena Tuhan”
atau
“Ini semua karena manusia“.
Keduanya membutuhkan pemahaman yang lebih matang.
Ada hukum alam.
Ada tindakan manusia.
Ada variabilitas iklim.
Ada perubahan iklim.
Ada tata kelola air.
Dan bagi orang beriman, di atas semua itu ada keyakinan bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah.
Maka iman tidak boleh digunakan untuk mematikan ilmu.
Sebaliknya, ilmu juga tidak semestinya membuat manusia kehilangan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Saya teringat satu penelitian yang menarik tentang kekeringan di Sulawesi Selatan.
Penelitian Andini, Santikayasa, dan Setiawan yang terbit di jurnal Agromet pada 2025 menganalisis pola kekeringan meteorologis Sulawesi Selatan selama 1981–2020. Penelitian tersebut menemukan adanya variasi spasial dan temporal kekeringan, termasuk kecenderungan pengeringan yang signifikan di bagian selatan wilayah tertentu. (Jurnal IPB)
Ini menarik.
Sebab kadang kita melihat kemarau hanya dari halaman rumah.
Padahal alam bekerja jauh lebih luas daripada pagar rumah kita.
Yang kering di satu tempat belum tentu sama dengan yang terjadi di tempat lain.
Yang terjadi tahun ini belum tentu identik dengan tahun lalu.
Karena itu, kebijaksanaan menuntut kita untuk membedakan antara pengamatan, dugaan, dan fakta.
Jangan semua dugaan diperlakukan seperti fakta.
Jangan semua opini diperlakukan seperti ilmu.
Dan jangan semua kabar yang beredar diperlakukan seperti kebenaran.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36) (Quran.com)
Ayat ini terasa semakin penting pada zaman ketika satu jempol bisa menyebarkan informasi kepada ribuan orang.
Dulu orang harus berteriak untuk menyebarkan kabar.
Sekarang cukup tekan tombol “bagikan”.
Masalahnya, tombol “bagikan” sering kali lebih cepat daripada tombol “periksa dulu”.
Anre Gurutta kemudian membawa pembicaraan ke tempat yang lebih dalam.
Tentang manusia.
Tentang kadar.
Tentang bagaimana seseorang seharusnya menempatkan dirinya.
Saya semakin diam.
Sebab di situlah saya merasa pembicaraan kami sebenarnya bukan lagi tentang kemarau.
Kemarau hanya pintu masuk.
Yang sedang dibicarakan adalah kesombongan manusia dalam menilai kehidupan.
Kadang kita merasa paling tahu.
Paling benar.
Paling berjasa.
Paling pantas.
Paling berilmu.
Paling layak didengar.
Dan ketika melihat orang lain berbeda, kita merasa tugas kita adalah mengoreksinya.
Padahal belum tentu kita memahami seluruh cerita hidupnya.
Ada orang yang terlihat biasa tetapi menyimpan pengalaman luar biasa.
Ada orang yang pendidikannya sederhana tetapi kebijaksanaannya panjang.
Ada orang yang tidak banyak berbicara tetapi sekali berbicara membuat kita pulang membawa pikiran baru.
Karena itu saya belajar dari dua sosok yang saya panggil Anre Gurutta dan Guru Besar:
ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Nabi Muhammad ﷺ bahkan bersabda:
لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
“Tidak layak bagi seseorang mengatakan: Aku lebih baik daripada Yunus bin Matta“.
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, antara lain no. 3416. (Sunnah)
Pesannya sangat dalam.
Kalau terhadap seorang nabi saja manusia tidak layak membanggakan dirinya, lalu bagaimana mungkin kita, manusia biasa, merasa lebih baik daripada orang lain?
Kita mungkin lebih tinggi pendidikannya.
Tetapi belum tentu lebih tinggi akhlaknya.
Kita mungkin lebih banyak membaca buku.
Tetapi belum tentu lebih banyak belajar dari kehidupan.
Kita mungkin lebih banyak berbicara.
Tetapi belum tentu lebih banyak memahami.
Dan kita mungkin merasa lebih pintar.
Tetapi boleh jadi orang lain lebih dekat kepada Allah dalam perkara yang tidak pernah kita ketahui.
Al-Qur’an juga mengingatkan:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ
“Janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri “.
(QS. Luqman: 18) (Quran.com)
Magrib mulai mendekat.
Cahaya sore perlahan berubah.
Kopi di meja tinggal separuh.
Pembicaraan kami pun perlahan menemukan ujungnya.
Tetapi saya merasa ada sesuatu yang belum selesai.
Bukan pembicaraan.
Melainkan renungan.
Saya pulang dengan satu kesadaran:
mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya, “Mengapa Tuhan memberikan ini kepadaku?”
Padahal ada pertanyaan yang lebih dewasa:
“Apa yang ingin Tuhan ajarkan kepadaku melalui ini?”
Kemarau mungkin mengajarkan manusia menghargai air.
Keterbatasan mungkin mengajarkan manusia bersyukur.
Kegagalan mungkin mengajarkan manusia memperbaiki diri.
Perbedaan mungkin mengajarkan manusia menghormati sesama.
Dan pertemuan dengan orang-orang berilmu mungkin mengajarkan kita bahwa semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin banyak pula alasan untuk berkata.
“Saya masih harus belajar“.
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5–6) (Quran.com)
Mungkin kemudahan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Kadang ia datang sebagai orang yang mengingatkan kita.
Kadang sebagai pengalaman yang membuat kita matang.
Kadang sebagai kegagalan yang menyelamatkan kita dari kesombongan.
Kadang sebagai kemarau yang membuat kita kembali mengenal arti seteguk air.
Dan mungkin, kadang-kadang, kemudahan itu datang dalam bentuk daun kelor.
Saya tersenyum sendiri.
Barangkali Tuhan memang sedang mengajarkan kita sebuah pelajaran sederhana:
jangan terlalu sibuk menuntut kehidupan menyediakan apa yang kita mau, sampai lupa mensyukuri apa yang sebenarnya kita butuhkan.
Sebab Tuhan lebih mengetahui kebutuhan kita daripada diri kita sendiri.
Dan manusia yang bijaksana bukanlah manusia yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu.
Ia adalah manusia yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus bertanya, kapan harus tertawa, kapan harus serius, dan yang paling penting kapan harus mengakui bahwa dirinya belum tahu.
Sore itu kami berpisah.
Anre Gurutta pulang membawa pikirannya.
Guru Besar pulang dengan renungannya.
Dan saya?
Saya pulang membawa satu kalimat yang entah mengapa terasa semakin jelas.
“Tuah lebih mengetahui kebutuhanmu“.
Mungkin itulah salah satu cara Tuhan mendidik manusia.
Bukan selalu dengan memberi apa yang kita minta.
Tetapi kadang dengan memberi apa yang membuat kita belajar menjadi manusia.
Dan seperti kemarau yang pada akhirnya akan berlalu, barangkali setiap kesulitan pun memiliki batas waktunya.
Yang tersisa kemudian bukan seberapa lama kita mengeluh tentang panasnya,
melainkan seberapa banyak kita belajar dari musim yang pernah kita lewati.
Referensi
- Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah 2:216 tentang keterbatasan pengetahuan manusia dan kemungkinan kebaikan di balik sesuatu yang tidak disukai. (Quran.com)
- Al-Qur’an: QS. Al-Isra’ 17:36 tentang larangan mengikuti atau menyebarkan sesuatu tanpa pengetahuan. (Quran.com)
- Al-Qur’an: QS. Luqman 31:18 tentang larangan bersikap sombong dan membanggakan diri. (Quran.com)
- Al-Qur’an: QS. Asy-Syarh 94:5–6 tentang kemudahan yang menyertai kesulitan. (Quran.com)
- Sahih al-Bukhari 3416: hadis tentang larangan merasa lebih baik daripada Nabi Yunus a.s. (Sunnah)
- BMKG, Prediksi Musim Kemarau 2026: data resmi mengenai awal, puncak, dan sifat musim kemarau Indonesia 2026. (BMKG)
- BMKG, 27 Agustus 2026: laporan kondisi kering yang meluas saat puncak musim kemarau 2026. (BMKG)
- Andini, N., Santikayasa, I.P., & Setiawan, A.M. (2025), Agromet 39(2): 120–130: penelitian tentang pola spasial-temporal kekeringan meteorologis di Sulawesi Selatan. (Jurnal IPB)
- IPCC, Climate Change 2021: The Physical Science Basis: kajian komprehensif mengenai hubungan perubahan iklim, siklus air, kekeringan, dan pengaruh aktivitas manusia. (IPCC)
- IPCC, Climate Change 2023: Synthesis Report: sintesis bukti terbaru mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap berbagai ekstrem cuaca, termasuk kekeringan. (IPCC)
Leave a Reply